Minggu, 07 Mei 2017

TRADISI MEGALITIK PADA MASA PRAAKSARA DAN PENINGGALAN KEBUDAYAAN YANG DIHASILKAN



MATERI PEMBELAJARAN:
A.  Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik yaitu tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik (mega berarti besar, lithos berarti batu), masyarakat pada tradisi megalitik yakin bahwa akan ada kehidupan setelah mati (Poesponegoro, 2008:248). Tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Jasad dari seorang kerabat yang telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar. Bangunan ini kemudian menjadi medium penghormatan, tempat singgah, dan sekaligus menjadi lambang si mati.
Pada tahun 1966 Heine Geldern meninjau kembali pembedaan orisinil dan fundamental antara Megalitik Tua dan Megalitik Muda. Megalitik Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolitik (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung kebudayaan kapak persegi (Proto Melayu). Contoh bengunan Megalitik adalah menhir, punden berundak, arca-arca statis. Sedangkan Megalitik Muda menyebar di Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung kebudayaan dongson (Deutro Melayu). Di dalam tradisi Megalitik terdapat adanya hubungan yang erat antara upacara pemujaan roh nenek moyang dan monumen-monumen dari batu kecil maupun dari batu besar. Selain itu upacara yang dilakukan tanpa perangkat upacara yang lengkap dapat dianggap melakukan upacara megalitik, misalnya upacara korban kerbau dan pengayauan. Di dalam kehidupan masyarakat megalitik, kerbau mempunyai nilai sakral dan kepemilikan kerbau menentukan status sosial seseorang.
B. Peninggalan Kebudayaan Megalitik
Peninggalan kebudayaan Megalitik ternyata masih dapat dilihat sampai sekarang, karena pada beberapa suku-suku bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan Megalitik tersebut. Hasil peninggalan kebudayaan Megalitik berupa bangunan batu besar yang hampir tersebar di seluruh Kepulauan Indonesia. Bentuk bangunan ini bermacam-macam dengan bangunan yang paling tua berfungsi sebagai kuburan dengan bentuk yang beraneka ragam. Beberapa tempat penguburan tersebut memiliki ciri khas dan fungsi yang berbeda-beda, diantaranya adalah sebagai berikut:


(Sumber: images.google.com)
1.  Menhir ialah sebuah batu tegak, untuk memperingati orang yang telah mati, yang dianggap sebagai tempat penghormatan, menampung kedatangan roh, dan menjadi lambang orang-orang yang telah meninggal.
 
(Sumber: images.google.com)
2.   Kubur berundak adalah kubur yang di buat di atas sebuah bangunan berundak yang biasanya terdiri dari satu atau lebih undak-undak dari tanah, dan tebing-tebingnya diperkuat dengan batu kali.
 
(Sumber: images.google.com) 
3.   Kubur peti batu adalah kubur berupa sebuah peti yang dibentuk dari enam buah papan batu, sebuah penutup peti yang membujur ke arah timur-barat.
 
(Sumber: images.google.com) 
4.   Sarkofagus ialah kubur batu yang mempunyai tutup pada atasnya, ukuran antara bagian bawah atau wadah dengan bagian atas atau tutup biasanya sama besarnya. Biasanya terdapat ukir-ukiran yang tedapat didinding muka sarkofagus.
 
(Sumber: images.google.com) 
5. Waruga yaitu peti kubur batu kecil berbentuk kubur yang ditutup dengan batu lain berbentuk atap rumah. 
 
(Sumber: images.google.com) 
6. Dolmen ialah kubur yang dipandang sebagai tempat keramat dalam melakukan pertemuan-pertemuan maupun upacara-upacara pemujaan arwah nenek moyang.
C.  Sistem Kepercayaan Masyarakat Praaksara pada Masa Megalitik
1. Animisme
(Sumber: images.google.com)
Bagi arwah orang-orang terkemuka seperti kepala suku, kyai, pendeta, dukun, dan sebagainya itu dianggap suci. Oleh karena itu, mereka dihormati demikian pula nenek moyang kita. Dengan demikian timbullah kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang yang disebut Animisme. Mereka percaya manusia yang meninggal akan mendapatkan kebahagiaan jika mayatnya ditempatkan pada susunan batu-batu besar, misalnya pada peti batu atau sarkofagus. Batu-batu besar ini menjadi lambang perlindungan bagi manusia yang berbudi luhur.
Kepercayaan animisme merupakan sebuah sistem kepercayaan yang memuja roh nenek moyang. Seiring dengan perkembangan pelayaran, masyarakat zaman pra-aksara akhir juga mulai mengenal sedekah laut. Sudah barang tentu kegiatan upacara ini lebih banyak dikembangkan di kalangan para nelayan. Bentuknya mungkin semacam selamatan apabila ingin berlayar jauh, atau mungkin saat memulai pembuatan perahu.
2. Dinamisme
 
(Sumber: images.google.com)
      Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris) mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda-benda yang berisi mana disebut fetisyen yang berarti benda sihir. Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka, lambang kerajaan, tombak, keris, gamelan, dan sebagainya akan membawa pengaruh baik bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit, menolak malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat tidak terdapat perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk tergantung kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan. Perbedaannya, jika jimat pada umumnya dipergunakan/dipakai di badan dan bentuknya lebih kecil dari pada fetisyen. Contohnya, fetisyen panji Kiai Tunggul Wulung dan Tobak Kiai Plered dari Keraton Yogyakarta

TRADISI MEGALITIK PADA MASA PRAAKSARA DAN PENINGGALAN KEBUDAYAAN YANG DIHASILKAN

MATERI PEMBELAJARAN: A.   Tradisi Megalitik Tradisi megalitik ya i tu tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik ( mega berarti ...