MATERI
PEMBELAJARAN:
A. Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik yaitu tradisi
pendirian bangunan-bangunan megalitik (mega berarti besar, lithos berarti
batu), masyarakat pada tradisi megalitik yakin bahwa akan ada kehidupan setelah
mati (Poesponegoro, 2008:248). Tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik selalu
berdasarkan kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap
kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Jasad dari seorang kerabat yang
telah mati diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar. Bangunan ini
kemudian menjadi medium penghormatan, tempat singgah, dan sekaligus menjadi
lambang si mati.
Pada tahun 1966 Heine Geldern
meninjau kembali pembedaan orisinil dan fundamental antara Megalitik Tua dan
Megalitik Muda. Megalitik Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolitik
(2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung kebudayaan kapak persegi (Proto Melayu).
Contoh bengunan Megalitik adalah menhir, punden berundak, arca-arca statis.
Sedangkan Megalitik Muda menyebar di Indonesia pada zaman perunggu (1000-100
SM) dibawa oleh pendukung kebudayaan dongson (Deutro Melayu). Di dalam tradisi
Megalitik terdapat adanya hubungan yang erat antara upacara pemujaan roh nenek
moyang dan monumen-monumen dari batu kecil maupun dari batu besar. Selain itu
upacara yang dilakukan tanpa perangkat upacara yang lengkap dapat dianggap
melakukan upacara megalitik, misalnya upacara korban kerbau dan pengayauan. Di
dalam kehidupan masyarakat megalitik, kerbau mempunyai nilai sakral dan
kepemilikan kerbau menentukan status sosial seseorang.
B. Peninggalan Kebudayaan Megalitik
Peninggalan kebudayaan Megalitik
ternyata masih dapat dilihat sampai sekarang, karena pada beberapa suku-suku
bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan Megalitik tersebut. Hasil
peninggalan kebudayaan Megalitik berupa bangunan batu besar yang hampir
tersebar di seluruh Kepulauan Indonesia. Bentuk bangunan ini bermacam-macam
dengan bangunan yang paling tua berfungsi sebagai kuburan dengan bentuk yang
beraneka ragam. Beberapa tempat penguburan tersebut memiliki ciri khas dan
fungsi yang berbeda-beda, diantaranya adalah sebagai berikut:
(Sumber:
images.google.com)
1. Menhir ialah
sebuah batu tegak, untuk memperingati orang yang telah mati, yang dianggap
sebagai tempat penghormatan, menampung kedatangan roh, dan menjadi lambang
orang-orang yang telah meninggal.
(Sumber:
images.google.com)
2.
Kubur
berundak adalah kubur yang di buat di atas sebuah bangunan berundak yang biasanya
terdiri dari satu atau lebih undak-undak dari tanah, dan tebing-tebingnya
diperkuat dengan batu kali.
(Sumber:
images.google.com)
3.
Kubur peti
batu adalah kubur berupa sebuah peti yang dibentuk dari enam buah papan batu,
sebuah penutup peti yang membujur ke arah timur-barat.
(Sumber:
images.google.com)
4.
Sarkofagus ialah kubur batu yang mempunyai tutup pada atasnya, ukuran antara
bagian bawah atau wadah dengan bagian atas atau tutup biasanya sama besarnya.
Biasanya terdapat ukir-ukiran yang tedapat didinding muka sarkofagus.
(Sumber: images.google.com)
5. Waruga
yaitu peti kubur batu kecil berbentuk kubur yang ditutup dengan batu lain
berbentuk atap rumah.
(Sumber:
images.google.com)
6. Dolmen ialah kubur
yang dipandang sebagai tempat keramat dalam melakukan pertemuan-pertemuan
maupun upacara-upacara pemujaan arwah nenek moyang.
C. Sistem
Kepercayaan Masyarakat Praaksara pada Masa Megalitik
1. Animisme
(Sumber: images.google.com)
Bagi arwah
orang-orang terkemuka seperti kepala suku, kyai, pendeta, dukun, dan sebagainya
itu dianggap suci. Oleh karena itu, mereka dihormati demikian pula nenek moyang
kita. Dengan demikian timbullah kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang
yang disebut Animisme. Mereka percaya manusia yang meninggal akan mendapatkan
kebahagiaan jika mayatnya ditempatkan pada susunan batu-batu besar, misalnya
pada peti batu atau sarkofagus. Batu-batu besar ini menjadi lambang perlindungan
bagi manusia yang berbudi luhur.
Kepercayaan
animisme merupakan sebuah sistem kepercayaan yang memuja roh nenek moyang.
Seiring dengan perkembangan pelayaran, masyarakat zaman pra-aksara akhir juga
mulai mengenal sedekah laut. Sudah barang tentu kegiatan upacara ini lebih
banyak dikembangkan di kalangan para nelayan. Bentuknya mungkin semacam
selamatan apabila ingin berlayar jauh, atau mungkin saat memulai pembuatan
perahu.
2. Dinamisme
(Sumber:
images.google.com)
Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme
adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda hidup atau
mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris) mempunyai
kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda-benda yang berisi mana disebut fetisyen
yang berarti benda sihir. Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka,
lambang kerajaan, tombak, keris, gamelan, dan sebagainya akan membawa pengaruh
baik bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit,
menolak malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat
tidak terdapat perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk
tergantung kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan. Perbedaannya, jika jimat
pada umumnya dipergunakan/dipakai di badan dan bentuknya lebih kecil dari pada
fetisyen. Contohnya, fetisyen panji Kiai Tunggul Wulung dan Tobak Kiai
Plered dari Keraton Yogyakarta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar